SOLO, MettaNEWS – Perayaan ibadah Paskah Jumat Agung di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Danukusaman, Serengan, Jumat (29/3/2024) berlangsung khidmat.
Ratusan umat memenuhi ibadah Jumat Agung yang berlangsung pada pukul 07.00 WIB. Dipimpin oleh Pendeta GKJ Danukusuman Pdt. Dr. Uri Christian Sakti Labeti, S.Si., M.Sn.
Ibadah Jumat Agung GKJ Danukusuman mengangkat refleksi Berani Menderita untuk Menata Kehidupan
Dalam refleksi Jumat Agung, Pendeta Uri mengambil terminologi ajaran Hindu dan Budha, yakni Sadhana.
“Orang percaya memandang penderitaan dengan berani menghadapinya dan menata kehidupan. Dari bacaan injil mengangkat kisah penangkapan Yesus sampai penguburannya. Kita belajar 3 hal yang kita rangkum dalam 1 terminologi agama Hindu dan Budha. Yaitu sikap Sadhanan. Proses yang dilakukan seseorang untuk membawa spiritualitasnya lebih tinggi lagi,” kata Pendeta Uri.

Pdt Uri menyampaikan lewat Sadhanan manusia menaikkan level keimanan melalui bertapa, meditasi, yoga dan mengendalikan diri.
“Dari Sadhana kita belajar untuk sadar bahwa setiap orang menghadapi penderitaan. Dari lahir kita sudah menderita maka kita menangis. Karena kita tidak dapat mengapresiasikan perasaan kita yang bisa kita lakukan hanya menangis. Begitu juga ketika kita mati pasti ada yang menangis. Sama dengan Yesus yang lahir sampai mati berani menghadapi penderitaan, tidak menolak penderitaan,” tandasnya dihadapan ratusan umat Baita Karahayon.
Pdt Uri mengungkapkan dengan penderitaan, Yesus mengalami rasanya menjadi manusia dan penderitan yang manusia alami. Yesus melakukannya dengan tulus iklas. Sehingga penyelamatan Nya akan sempurna.
“Kemudian bagaimana kita memiliki semangat, harapan, impian ke depan. Karena dengan kita menjalani penderitaan sebenarnya kita melatih ketahanan diri sendiri. Untuk kita kemudian siap menerima segala bentuk penderitaan yang terjdi dalam hdup kita,” tandasnya.
Pdt. Uri menuturkan, panggilan hidup manusia menyadari bahwa semua orang mengalami penderitaan.
“Maka kita harus berani mengendalikan diri, mengendalikan kekecewaan, kemarahan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ketiga kita diajak untuk menatap masa depan. Ada harapan dibalik kesengsaraan yang menderita,” ungkapnya.

Pdt. Uri menuturkan dari kisah sengsara Tuhan Yesus kematian bukan akhir dari segalanya. Tapi Paskah atau kebangkitan Yesus menjadi bukti kemenangan.
“Ketika kita setia mengadapi penderitaan, sadar mengendalikan diri maka kita juga akan dimampukan menatap masa depan dengan harapan-harapan. Setelah badai dan hujan yang lebat pasti akan ada pelangi yang indah yang Tuhan sediakan bagi kita. Paskah adalah tanda kemenangan kita. Selamat hari Jumat Agung. Amien,” tutupnya.
Pekan Raya Paskah untuk umat kristiani dimulai dari Rabu Abu, Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci dan Minggu Paskah.
Sumber Berita : https://mettanews.id/jumat-agung-gkj-danukusuman-berani-menderita-untuk-menata-kehidupan/